Sofwan Manaf, Darunnajah
Perpindahan yang Bukan Sekadar Geografis
Ketika seorang santri yang telah menghabiskan enam tahun di lingkungan Pesantren melangkah keluar dari gerbang pesantren, ia tidak sekadar berpindah tempat. Ia berpindah semesta. Dari lingkungan yang terstruktur, terkontrol, dan penuh nilai — menuju kota yang tidak pernah tidur, penuh pilihan, penuh godaan, dan nyaris tanpa kendali eksternal. Perpindahan dari desa ke ibu kota bagi seorang alumni pesantren bukan persoalan adaptasi geografis semata, melainkan ujian identitas yang sesungguhnya. Indonesia memiliki lebih dari 43.000 pondok pesantren yang tersebar di seluruh nusantara, dengan jutaan santri yang setiap tahun menyelesaikan pendidikan lalu menyebar ke berbagai penjuru negeri (Dhofier, 1999). Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah pedesaan, dan sebagian besar pula akhirnya berhadapan dengan realitas urban — untuk melanjutkan studi, mengabdi, atau membangun karir. Darunnajah Jakarta, sebagai salah satu pesantren besar di ibu kota, menjadi salah satu pintu transisi penting. Di sinilah seorang alumni seperti Haji Naufal — setelah enam tahun ditempa di Pesantren — memulai babak baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang pernah ia jalani.
Pesantren Sebagai Pabrik Karakter: Modal yang Sudah Terbentuk
Selama enam tahun di Pesantren, santri tidak hanya belajar ilmu. Mereka menjalani sebuah sistem kehidupan yang total — bangun sebelum subuh, berjamaah, disiplin waktu, hidup sederhana, bergaul dalam komunitas yang setara, dan tunduk pada aturan yang konsisten. Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa adab kepada ilmu dan kepada guru adalah separuh dari perjalanan mencari ilmu itu sendiri (Az-Zarnuji, t.t.). Pesantren mewujudkan prinsip ini bukan dalam teks semata, melainkan dalam denyut keseharian yang berlangsung tanpa henti selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengingatkan bahwa pembentukan akhlak adalah proses yang memerlukan lingkungan yang mendukung, latihan yang berulang, dan komunitas yang konsisten (Al-Ghazali, t.t.). Apa yang terjadi selama enam tahun di pesantren adalah persis itu: pembentukan akhlak melalui sistem yang terprogram. Disiplin shalat subuh bukan semata karena santri ingin, tetapi karena sistem menuntutnya. Kesederhanaan bukan karena tidak mampu, tetapi karena lingkungan menormalisasinya. Ketika lingkungan itu hilang, pertanyaannya adalah: apakah nilai-nilai itu sudah benar-benar meresap, atau sekadar menempel karena terpaksa? Dhofier (1999) dalam kajiannya yang monumental tentang tradisi pesantren Jawa menunjukkan bahwa pesantren sejatinya adalah lembaga yang tidak sekadar mengajarkan agama, tetapi menanamkan worldview — cara pandang terhadap dunia, waktu, dan tujuan hidup. Inilah yang menjadi modal paling berharga ketika seorang alumnus menapaki aspal kota. Namun modal ini hanya akan berfungsi jika secara sadar dijaga dan dirawat oleh pemiliknya.
Kota: Antara Peluang Emas dan Jebakan Tersembunyi
Jakarta — dan kota besar pada umumnya — menawarkan sesuatu yang langka di desa: akses. Akses kepada perpustakaan besar, seminar ilmiah, diskusi intelektual, tokoh-tokoh berpengaruh, lembaga penelitian, dan jaringan yang luas dan beragam. Coleman (1988) dalam teori modal sosialnya menunjukkan bahwa jejaring yang terbangun di lingkungan urban yang dinamis jauh lebih bervariasi dan berpotensi berdampak dibanding jaringan yang terbatas di komunitas desa. Seorang santri yang cerdas memanfaatkan kota akan mendapatkan percepatan luar biasa dalam pertumbuhan intelektual dan profesionalnya.
Namun kota juga menyimpan jebakan yang tidak terlihat. Bukan kejahatan yang kasar, melainkan kebiasaan yang perlahan menggerus. Kota tidak punya bel subuh. Kota tidak punya pengawas yang mengetuk pintu kamar pukul tiga pagi. Kota menawarkan kebebasan yang — tanpa kesiapan mental — justru menjadi penjara kemalasan dan konsumsi tanpa henti. Budaya konsumtif, pergaulan tanpa arah, dan stimulasi indrawi yang berlebihan adalah risiko nyata yang menanti setiap pendatang muda di lingkungan urban.
Hefner dan Zaman (2007) dalam analisis mereka tentang pendidikan Islam modern menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi lulusan lembaga Islam ketika masuk ke lingkungan urban adalah apa yang mereka sebut sebagai decontextualization of values — nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan pesantren kehilangan kekuatannya ketika lingkungan yang menopangnya tidak lagi hadir. Seorang santri yang rajin berjamaah di pesantren bukan semata karena ia saleh secara mendalam, tetapi karena seluruh lingkungannya memfasilitasi dan menuntut kesalehan itu. Ketika lingkungan berubah, nilai yang tidak dijaga secara aktif dan sadar akan perlahan memudar seperti bara tanpa tiupan.
Ujian Terbesar: Ketika Layar Tidak Lagi Dilarang
Selama di pesantren, santri hidup tanpa telepon genggam. Ini bukan sekadar aturan administratif — ini adalah kebijakan pedagogis yang disengaja dan memiliki dampak yang dalam. Dengan menghilangkan layar dari kehidupan harian, pesantren memaksa santri untuk hadir secara penuh: hadir dalam belajar, hadir dalam ibadah, hadir dalam pergaulan. Perhatian tidak terpecah. Waktu tidak bocor. Percakapan antar manusia berjalan dengan kedalaman yang jarang ditemukan di era digital.
Begitu santri menyelesaikan pendidikan dan mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa atau ustadz muda, pintu kebebasan digital terbuka lebar. Dan di sinilah banyak yang tersandung. Bukan karena niat buruk, tetapi karena tidak pernah dilatih mengelola perangkat yang dirancang secara khusus untuk adiktif. Newport (2019) dalam Digital Minimalism menjelaskan bahwa platform digital — media sosial, game, aplikasi hiburan — dirancang secara eksplisit untuk memaksimalkan waktu layar penggunanya. Algoritma yang bekerja di balik layar tidak melayani pengguna, melainkan melayani pengiklan. Hasilnya: seseorang yang tidak memiliki strategi sadar akan dengan mudah menghabiskan berjam-jam di layar tanpa menyadari betapa besar waktu yang telah terkuras.
Penelitian Levenson et al. (2017) yang diterbitkan dalam jurnal Preventive Medicine menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan dewasa muda berkorelasi signifikan dengan gangguan tidur — termasuk sulit tidur, tertidur terlambat, dan kualitas tidur yang buruk. Fenomena begadang sambil browsing dan bermain game hingga dini hari yang kerap dialami mahasiswa baru bukan sekadar kebiasaan buruk individual — ini adalah dampak sistematis dari teknologi yang tidak dikelola dengan bijaksana.
Twenge (2017) dalam iGen memperingatkan bahwa generasi yang tumbuh bersama smartphone mengalami penurunan signifikan dalam kemampuan fokus, kedalaman berpikir, dan kemampuan menoleransi kebosanan — tiga hal yang justru menjadi inti dari proses belajar ilmu-ilmu keislaman yang mendalam. Seorang santri yang terbiasa membaca matan dan menghafal nazham memiliki kapasitas kognitif yang baik — namun kapasitas itu bisa terkikis dalam hitungan bulan jika tidak dilindungi dari paparan layar yang berlebihan dan tidak terarah. Yang perlu disadari adalah bahwa masalah ini bukan semata soal moral, melainkan soal desain kebiasaan. Duhigg (2012) dalam The Power of Habit menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui siklus cue-routine-reward. Begadang dengan HP terbentuk karena ada pemicu (rasa bosan, kesepian, keingintahuan spontan), ada rutinitas (membuka layar, scroll tanpa henti), dan ada hadiah segera (dopamin dari konten baru yang terus mengalir). Untuk mengubahnya, tekad semata tidak cukup — perlu desain ulang lingkungan dan rutinitas secara sadar dan sistematis.
Shalat Subuh Tanpa Pengawas: Ujian Keistiqamahan
Salah satu gejolak batin yang paling umum dialami oleh alumni pesantren ketika masuk ke lingkungan baru adalah hilangnya disiplin subuh. Di Pesantren, bel berbunyi, ustadz berjaga, dan tidak ada ruang untuk absen. Di Jakarta, tidak ada yang membangunkan. Tidak ada yang mencatat. Dan tubuh yang sudah terbiasa begadang dengan HP pun memiliki alasan logis untuk tidak membuka mata.
Ibn Jama’ah dalam Tadzkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim menyebut bahwa seorang penuntut ilmu yang mengorbankan waktu paginya untuk tidur sesungguhnya telah menyia-nyiakan berkah yang Allah sediakan di awal hari (Ibn Jama’ah, t.t.). Ini bukan retorika semata. Clear (2018) dalam Atomic Habits mengingatkan bahwa kebiasaan pagi adalah anchor habit — kebiasaan jangkar yang memengaruhi seluruh kualitas hari seseorang. Seorang yang bangun dengan shalat subuh yang khusyuk memulai harinya dari titik yang sangat berbeda dibanding yang bangun kesiangan dengan kepala berat karena begadang.
Selain subuh, kesehatan fisik adalah aspek yang sering diabaikan oleh santri yang baru masuk kota. Di Pesantren, aktivitas fisik terbangun secara alami dalam ritme harian: berjalan dari asrama ke masjid, dari masjid ke kelas, kegiatan fisik dalam program kepanduan dan olahraga rutin. Di kota, tanpa kesengajaan, tubuh bisa menjadi sangat pasif. Duduk berlama-lama di depan layar, makan tidak teratur, dan kurang tidur adalah kombinasi yang secara perlahan menggerus produktivitas dan keseimbangan mental. Olahraga ringan yang konsisten bukan kemewahan, melainkan investasi produktivitas yang mendesak.
Strategi Konkret: Membangun Sistem, Bukan Bergantung pada Semangat
Clear (2018) dalam Atomic Habits menegaskan sebuah prinsip yang paling relevan untuk konteks ini: “You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.” Seorang santri yang baru masuk ke lingkungan kota tidak bisa bergantung pada semangat awal atau nostalgia nilai-nilai pesantren untuk menjaga kualitas hidupnya. Ia perlu membangun sistem — kebiasaan kecil yang terstruktur dan dijalankan secara konsisten hari demi hari.
Dalam konteks penggunaan HP, strategi yang paling efektif bukan pelarangan total — yang jelas tidak realistis dan kontraproduktif — melainkan manajemen perhatian yang disengaja. Tetapkan jam-jam bebas layar: satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun adalah waktu yang paling krusial untuk dijaga. Matikan notifikasi aplikasi yang tidak bersifat darurat. Hapus atau sembunyikan aplikasi yang berfungsi semata sebagai hiburan tanpa nilai tambah. Ganti kebiasaan scroll tanpa tujuan dengan membaca buku, kitab, atau tulisan yang bermakna. Newport (2019) menyebut ini sebagai “digital decluttering” — pembersihan digital yang memungkinkan perhatian kembali kepada hal-hal yang benar-benar penting. Selain itu, membangun jaringan sosial yang sehat adalah strategi kunci lainnya. Alumni Pesantren memiliki modal luar biasa berupa jaringan yang tersebar di hampir seluruh kota besar Indonesia dan belahan kota dunia lain. Coleman (1988) menunjukkan bahwa modal sosial yang terbangun dalam komunitas kepercayaan adalah salah satu prediktor terkuat kesuksesan jangka panjang seseorang. Bergabung dengan komunitas alumni, majelis ilmu, atau forum diskusi yang mendorong pertumbuhan bukan sekadar nostalgia — ini adalah strategi bertahan yang nyata di tengah luasnya kota yang bisa terasa sepi sekaligus bising.
Penutup: Pesantren Membentuk, Jakarta Menguji
Enam tahun di Pesantren bukan hanya gelar yang tersemat di lembar ijazah. Ia adalah bekal cara hidup: disiplin, sederhana, berilmu, dan berakhlak. Bekal itu akan bernilai atau sia-sia tergantung sepenuhnya pada pilihan sang pemiliknya setelah keluar dari gerbang pesantren. Darunnajah Jakarta menawarkan lingkungan transisi yang unik — masih bernafaskan pesantren, namun bersentuhan langsung dengan denyut ibu kota. Ini adalah jembatan yang berharga, tetapi jembatan hanya berguna bagi mereka yang tahu ke mana hendak berjalan.
Kota bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan medan amal yang harus ditaklukkan. Ia menawarkan peluang yang tidak tersedia di desa, namun juga menyimpan friksi yang tidak dijumpai di lingkungan pesantren. Seorang alumni pesantren yang berhasil adalah bukan yang bertahan tanpa berubah, melainkan yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar — yang menjalani dinamika urban dengan tetap memegang nilai-nilai yang telah lama tertanam dalam dirinya.
Warisan terbesar tradisi keilmuan Islam yang diwarisi dari Az-Zarnuji, Al-Ghazali, hingga Ibn Jama’ah adalah ini: ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Ilmu yang didapat di pesantren baru akan berbuah ketika ia dipelihara dengan disiplin, dikembangkan dengan sungguh-sungguh, dan diabdikan bagi masyarakat. Jakarta — dengan segala kompleksitasnya — adalah ladang pengabdian yang sesungguhnya. Dan hanya mereka yang membawa akar kuatlah yang akan tumbuh di tanahnya yang keras.
Sofwan Manaf, Darunnajah, bahan I’dad buat pengarahan guru pengabdian baru