Di sebuah rumah sederhana di Petukangan, Jakarta, tahun 1938, seorang kyai muda bernama Abdul Manaf Mukhayyar mulai mengajar beberapa santri. Saat itu, penjajah Belanda masih menekan pendidikan Islam, namun Kiai Manaf tetap melangkah dengan keberanian yang tak biasa. Ia membawa mimpi membangun lembaga pendidikan Islam yang bukan hanya mengajarkan kitab, tetapi juga membuka jendela santri pada perkembangan dunia. Siapa sangka, langkah kecil itu menjadi titik mula perjalanan sebuah pesantren yang kelak dikenal lintas benua: Darunnajah
Delapan dekade kemudian, Darunnajah menjelma menjadi panggung pertemuan tokoh dunia. Raja Salman pernah berbuka puasa bersama para santri. Grand Syekh Al-Azhar datang membawa rombongan ulama senior. Bahkan Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris, menyempatkan diri berkunjung untuk memahami wajah Islam moderat di Indonesia. Nama “Darunnajah”—yang diajukan Aminullah dan disepakati dalam rapat tahun 1961—kini identik dengan jaringan global, diplomasi pendidikan, dan reputasi internasional yang jarang dimil;iki pesantren.
Estafet Kepemimpinan Tiga Generasi
Kekuatan Darunnajah terletak pada keberhasilan menjaga kesinambungan visi lintas generasi. K.H. Abdul Manaf, pendiri yang wafat pada 2005, menanamkan fondasi keterbukaan: Islam Indonesia harus mampu berdialog dengan dunia luar. Gagasan itu kemudian dilanjutkan K.H. Mahrus Amin, tokoh sentral yang bergabung sejak 1961 dan dikenal memiliki jejaring internasional yang luas. Selama kepemimpinannya, Darunnajah didatangi lebih dari 300 tokoh dunia—mulai pejabat Saudi hingga diplomat Eropa dan Amerika.
Menariknya, ketika K.H. Mahrus Amin wafat pada 2021, Darunnajah tidak kehilangan arah. Justru, kepemimpinan kolektif Dr. K.H. Sofwan Manaf dan K.H. Hadiyanto Arief membawa pesantren ini pada fase baru. Salah satu momentum pentingnya adalah kunjungan Grand Syekh Al-Azhar pada 2024, yang menjadi sinyal kuat bahwa reputasi Darunnajah telah mapan sebagai institusi, bukan bergantung pada satu figur besar.
Diplomasi yang Tak Hanya Seremonial
Yang membuat Darunnajah menonjol adalah caranya mengubah setiap kunjungan internasional menjadi program pendidikan yang berkelanjutan. Diplomasi tidak berhenti pada foto bersama; selalu ada tindak lanjut.
Kerja sama dengan pemerintah Arab Saudi menjadi contoh paling nyata. Sejak 2009, puluhan santri dan guru Darunnajah mengikuti program intensif bahasa Arab di Universitas Islam Madinah dan Ummul Qura Mekah, seluruhnya dibiayai Saudi. Pada 2012, program meluas hingga mencakup ratusan peserta dari 150 pesantren di Indonesia. Efeknya terasa: sekitar 400 guru dan dosen kembali ke daerah masing-masing dan mengajar puluhan ribu santri.
Langkah serupa juga terjadi dengan Mesir. Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar menghasilkan kesepakatan penting: beasiswa, pelatihan, dan pengakuan langsung bagi lulusan Universitas Darunnajah untuk melanjutkan studi master tanpa proses penyetaraan. Selain itu, program pertukaran guru dengan Holy Family Catholic School di Inggris—yang berjalan sejak 2006 dan diliput BBC serta The Guardian—menjadi bukti unik bahwa dialog lintas iman dapat dilakukan secara natural, tanpa kehilangan identitas keislaman.
Memberi Dampak untuk Nusantara
Darunnajah telah menjadi rujukan bagi 1.247 pesantren yang melakukan studi banding. Banyak di antara mereka yang kemudian mengadopsi model kepemimpinan dan kurikulum internasional yang dikembangkan Darunnajah. Cerita semacam ini muncul di banyak daerah, salah satunya di Lombok: seorang ustadz yang mengikuti pelatihan di Madinah melalui program Darunnajah kembali ke pesantrennya, memperbarui metode pembelajaran, dan membagikan ilmunya ke pesantren lain.
Dampak nasional lainnya terlihat ketika Qatar menggandeng Darunnajah untuk kompetisi hafalan Al-Qur’an. Hasilnya, 500 peserta dari seluruh Indonesia dan Asia Tenggara mendapatkan kesempatan berkompetisi—menunjukkan bahwa jejaring Darunnajah memiliki efek domino bagi dunia pesantren lebih luas.
Menjaga Jalan Tengah di Era Polarisasi
Di tengah dunia yang semakin terbelah, Darunnajah menawarkan wajah Islam yang moderat dan terbuka. Mereka bisa menerima ulama Saudi dan biksu Buddha Jepang di hari yang berbeda. Mereka mengirim santri ke Qatar untuk belajar tahfizh, dan mengirim delegasi ke Amerika untuk program kepemimpinan.
Konsep wasatiyah—jalan tengah—yang menjadi identitas Darunnajah bukan sekadar jargon. Ia lahir dari ajaran K.H. Abdul Manaf, diperluas oleh K.H. Mahrus Amin, dan kini diinstitusionalisasi dalam kebijakan akademik dan kerja sama internasional.
Pelajaran bagi Indonesia
Darunnajah adalah bukti bahwa pesantren dapat berperan sebagai instrumen diplomasi kebudayaan Indonesia. Lebih dari 2.500 alumni Darunnajah kini menetap di luar negeri, menjadi duta informal yang memperkenalkan wajah Islam Nusantara di berbagai negara.
Perjalanan panjang dari sebuah pengajian rumah pada 1938 menuju panggung diplomasi Islam global menunjukkan satu hal: ketika visi, kepemimpinan, dan keterbukaan dijaga secara konsisten, sebuah lembaga pendidikan dapat melampaui batas geografis dan menjadi bagian dari percakapan dunia.