Skip to content
Home » Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A: Kyai dan Guru yang Menginspirasi

Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A: Kyai dan Guru yang Menginspirasi

Oleh: Sofwan Manaf
Santri KMI Gontor 1979–1985 | Guru Pengabdian KMI Gontor 1985–1992

Pertemuan Pertama yang Mengubah Segalanya

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Modern Darussalam Gontor pada 30 Agustus 1979. Waktu itu usia saya baru empat belas tahun, kelas 2 SMP Islam Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta—seorang anak kota yang belum tahu banyak tentang dunia pesantren. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa enam tahun ke depan sebagai santri (1979–1985), dan tujuh tahun berikutnya sebagai guru pengabdian (1985–1992), akan menempa seluruh horizon intelektual, spiritual, dan manajerial saya secara fundamental. Di antara sekian banyak figur yang berpengaruh di alam Gontor, sosok yang paling menorehkan jejak paling dalam adalah Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA—Pimpinan Pondok Modern Gontor periode 1985–2020. Beliau bukan sekadar pemimpin institusi; beliau adalah guru, pendidik sekaligus arsitek jiwa yang bekerja dalam totalitas kehidupan pondok (Zarkasyi, 2005).

Perkenalan saya yang lebih intim dengan beliau justru terjadi saat saya beralih status: dari santri menjadi guru pengabdian. Di sinilah saya menyadari bahwa kepemimpinan KH. Syukri bukan sesuatu yang dapat dipelajari dari jauh. Ia hanya dapat dipahami melalui pengalaman langsung—melalui penugasan, pengawalan, teguran yang tajam namun penuh kasih, dan keteladanan yang tak pernah berhenti bahkan di tengah malam sekalipun. Pengalaman inilah yang terus membentuk saya, hingga hari ini, dalam mengelola Pesantren Darunnajah dan mengembangkan 23 cabang pesantren di seluruh Indonesia (Manaf, 2024; darunnajah.com).

Biografi Seorang Putra Gontor

Lahir pada 19 September 1942 di desa Gontor, Ponorogo, Abdullah Syukri Zarkasyi adalah putra sulung dari KH. Imam Zarkasyi—salah satu dari tiga pendiri (Trimurti) Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH. Ahmad Sahal dan KH. Zainuddin Fananie. Dengan demikian, darah Gontor mengalir dalam dirinya bukan sekadar secara biologis, melainkan secara ideologis dan pedagogis. Ia besar di lingkungan yang menempatkan pendidikan Islam sebagai misi peradaban, bukan sekadar rutinitas pengajaran (Dhofier, 1982; Pondok Modern Gontor, 2024).

Perjalanan akademiknya mencerminkan kedalaman komitmen terhadap ilmu. Beliau menyelesaikan Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor pada 1960, kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan meraih gelar Sarjana Muda pada 1965. Hasrat beliau terhadap ilmu membawanya jauh ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, di mana beliau meraih gelar Lc. pada 1972 dan MA pada 1976. Pada 2005, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa sebagai pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa bagi pendidikan Islam Indonesia (Zarkasyi, 2005). Penghargaan internasional paling bergengsi yang beliau terima adalah Wusam Jumhuriyah Misr al-Arabiyah ala Darajah Syaraf Ula li al-Ulum wa al-Funun—penghargaan negara tertinggi Mesir di bidang ilmu dan seni—yang diserahkan langsung oleh Presiden Husni Mubarak pada 2006.

Rekam jejak organisasinya melampaui batas Gontor: anggota Badan Wakaf PMDG (1985–2020), Ketua MP3A Kementerian Agama (1999–hingga wafat), Dewan Penasehat MUI Pusat, Ahli Majlis Tanfidh Rabithah al-Jami’ah al-Islamiyyah al-Alamiyyah Kairo, hingga pendiri Pesantren Anak Shaleh Baitul Qur’an Gontor. Semua posisi ini bukan jabatan yang beliau kejar; beliau diletakkan di sana oleh kepercayaan—dan beliau memenuhinya dengan penuh tanggung jawab (Steenbrink, 1974; Mastuhu, 1994).

Gontor sebagai Lembaga Kaderisasi Pemimpin

Pemikiran KH. Syukri Zarkasyi yang paling sentral—dan yang paling kerap beliau tekankan dalam berbagai pengarahan kepada para guru selama saya bertugas—adalah bahwa Gontor bukan sekadar sekolah, melainkan lembaga kaderisasi pemimpin (Zarkasyi, 2005). Konsep ini berpadanan kuat dengan gagasan kepemimpinan transformasional yang dikembangkan Burns (1978) dan Bass (1990), di mana pemimpin tidak sekadar mengelola tugas-tugas rutin, melainkan mengangkat potensi pengikutnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui inspirasi, motivasi, dan keteladanan. Bagi KH. Syukri, Kiai adalah pemimpin yang berfungsi sebagai pendidik—bukan manajer administratif yang semata menunggu laporan dan mendistribusikan tugas (Bass & Avolio, 1994).

Gontor membangun kadernya melalui empat pilar yang saling menopang: jiwa pondok, filsafat pondok, idealisme pondok, dan orientasi pondok. Keempat pilar ini bertemu dalam satu muara: kader pondok yang bertanggung jawab dan sanggup menentukan maju-mundurnya lembaga. Visi Gontor yang dirumuskan di bawah kepemimpinan beliau adalah “menjadi Lembaga Pendidikan Islam yang mencetak kader-kader pemimpin umat, menjadi tempat ibadah dan sumber ilmu pengetahuan agama dan umum dengan tetap berjiwa pesantren” (Zarkasyi, 2005, hlm. 24). Visi ini tidak berhenti pada tataran retoris; ia dioperasionalkan melalui manajemen kehidupan pondok selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu (Mastuhu, 1994).

Konsep pendidikan total ala Gontor ini memiliki keselarasan yang mengesankan dengan rekomendasi UNESCO dalam Laporan Delors (1996) yang merumuskan empat pilar pembelajaran: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. KH. Syukri, dalam berbagai ceramah dan pengarahannya kepada para guru, mengintegrasikan keempat pilar tersebut ke dalam sistem kehidupan pondok jauh sebelum Laporan Delors diterbitkan. Lingkungan PMDG dirancang sedemikian rupa sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami santri adalah bagian dari proses pendidikan yang terencana (UNESCO, 1996; Muhaimin, 2006).

Gaya Kepemimpinan yang Menggemblengi

Saya berargumen bahwa metode kepemimpinan KH. Syukri Zarkasyi adalah manifestasi paling autentik dari apa yang Covey (1989) sebut sebagai principle-centered leadership—kepemimpinan yang berporos pada prinsip. Bukan karena beliau membaca Covey—beliau lahir dari tradisi yang jauh lebih dalam dari sekadar literatur manajemen Barat—melainkan karena prinsip-prinsip yang beliau pegang bersumber dari ajaran Islam yang digali secara konsisten dan dihidupkan melalui keteladanan sehari-hari (Hidayatullah, 2010).

Saya menghayati ini secara langsung dan personal. Selama tujuh tahun sebagai guru pengabdian (1985–1992)—mengajar berbagai mata pelajaran di KMI, mengemban amanah sebagai Sekretaris Pimpinan Gontor (1989–1992), Pembimbing Konsulat DKI Jaya Gontor (1985–1992), terlibat dalam pengelolaan kegiatan OPPM, hingga memimpin tim drumband Gontor—saya merasakan betapa setiap penugasan yang diberikan bukan sekadar instruksi administratif, melainkan ladang pembentukan karakter (Manaf, 2024; sofwanmanaf.id). Ketika saya ditunjuk sebagai Sekretaris Pimpinan Gontor pada 1989, usia saya baru 24 tahun. Amanah itu terasa berat, namun justru di situlah saya memahami apa yang KH. Syukri maksudkan dengan penugasan sebagai metode kaderisasi yang sesungguhnya.

Metode kaderisasi beliau mencakup tujuh pendekatan utama yang saling melengkapi: pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan, pengawalan, uswah hasanah, dan pendekatan personal (Zarkasyi, 2005). Di antara ketujuhnya, uswah hasanah—keteladanan nyata—adalah yang paling membekas. KH. Syukri tidak pernah memerintahkan sesuatu yang tidak beliau lakukan sendiri. Kedisiplinan waktu, konsistensi dalam beribadah, keberanian mengambil keputusan yang tidak populer, dan ketulusan dalam berkhidmah kepada lembaga—semua itu beliau hidupkan, bukan sekadar beliau ceramahkan (Burns, 1978; Yukl, 2010).

Pemimpin sebagai Pendidik: Melampaui Logika Manajerial

Salah satu distinktif terpenting dalam pemikiran KH. Syukri adalah perbedaan yang tegas antara pemimpin dan manajer. Seorang manajer, dalam perspektif beliau, bersifat administratif: mengatur, menyelenggarakan, membagi tugas rutin, menunggu laporan, dan mengambil keputusan secara sesaat. Seorang pemimpin, sebaliknya, adalah pendidik yang setiap saat mengarahkan, memberikan tugas, melatih, mengawal, memberikan teladan, dan mendoakan—secara berkelanjutan dan tidak terputus (Zarkasyi, 2005). Perbedaan ini tampak sederhana, namun implikasinya sangat jauh dalam cara membangun lembaga.

Perspektif ini mencerminkan apa yang Yukl (2010) rumuskan sebagai “leadership as a process of influencing others to understand and agree about what needs to be done and how to do it.” Namun, KH. Syukri melangkah lebih jauh dari definisi akademik tersebut: kepemimpinan baginya adalah proses mendidik jiwa. Ini konsisten dengan pemikiran Dhofier (1982) tentang peran kiai sebagai figur sentral yang memiliki otoritas kultural dan spiritual melampaui jabatan formal. Kiai bukan bos; kiai adalah guru yang hidupnya sendiri adalah pelajaran bagi murid-muridnya (Dhofier, 1982; Bruinessen, 1995).

Model kepemimpinan PMDG yang bersifat transformasional ini—sebagaimana dianalisis Mastuhu (1994)—mampu mengkomunikasikan visi manajemen kepada para staf dan stakeholder pondok, menarik partisipasi penuh mereka, dan membangun kekuatan intra-pondok untuk menghadapi tuntutan publik yang terus berubah. Saya menyaksikan sendiri bagaimana KH. Syukri memimpin rapat-rapat koordinasi di mana setiap guru—bahkan yang paling junior sekalipun—didorong untuk menyampaikan pendapat. Beliau tidak memimpin dengan intimidasi; beliau memimpin dengan kepercayaan dan keyakinan (Mastuhu, 1994; Bass & Avolio, 1994).

Kualifikasi Pemimpin dalam Pandangan

KH. Syukri Zarkasyi merumuskan 14 kualifikasi pemimpin yang ideal: ikhlas, selalu mengambil inisiatif, mampu membangun jaringan kerja dan memanfaatkannya, dapat dipercaya, bekerja keras dan bersungguh-sungguh, menguasai masalah dan dapat menyelesaikannya, memiliki integritas tinggi, berani dan tidak takut risiko, jujur dan terbuka, siap berkorban, tegas, cerdas dalam melihat-mendengar-mengevaluasi-memutuskan-menyelesaikan, mampu berkomunikasi, dan baik dalam bermuamalah (Zarkasyi, 2005). Ke-14 kualifikasi ini bukan sekadar daftar atribut yang dikhotbahkan dari mimbar; beliau mewujudkannya dalam setiap interaksi nyata bersama guru, santri, dan masyarakat.

Jika 14 kualifikasi ini dipadankan dengan literatur kepemimpinan kontemporer, kita menemukan keselarasan yang mengesankan sekaligus mengungkapkan sebuah paradoks: pemikiran pesantren yang lahir dari tradisi Islam klasik ternyata selangkah lebih maju dari banyak teori manajemen modern. Covey (1989) menekankan integritas dan proaktivitas sebagai fondasi efektivitas; Collins (2001) dalam Good to Great menggarisbawahi kerendahan hati personal yang dipadukan dengan kemauan profesional yang kuat—yang ia sebut sebagai “Level 5 Leadership.” Bass dan Avolio (1994) dalam teori transformational leadership menekankan inspirational motivation dan idealized influence sebagai ciri pemimpin unggul. KH. Syukri menyintesiskan semua ini—bukan dari buku-buku Barat, melainkan dari warisan Islam yang mengakar: keikhlasan sebagai fondasi, khidmah sebagai metode, dan kemaslahatan umat sebagai tujuan akhir (Muhaimin, 2006; Hidayatullah, 2010).

Satu hal yang kerap saya renungkan—dan makin dalam saya pahami seiring bertambahnya usia dan tanggung jawab—adalah bahwa ikhlas, yang beliau letakkan pertama dan utama di antara 14 kualifikasi, bukan sekadar kata yang mudah diucapkan. Dalam pandangan KH. Syukri, ikhlas adalah energi batin yang menggerakkan seluruh sistem kepemimpinan. Tanpa ikhlas, semua metode kaderisasi hanya akan melahirkan teknokrat—orang yang mahir mengelola, tetapi tidak punya jiwa perjuangan. Dengan ikhlas, bahkan tugas yang paling berat menjadi ringan dan bermakna (Zarkasyi, 2005; Steenbrink, 1974).

Warisan yang Melampaui Zaman

Mengapa KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA layak disebut kyai dan guru yang menginspirasi bagi saya ? Jawaban saya tidak berhenti pada prestasi institusional beliau—meskipun angka-angka itu berbicara sendiri: ribuan alumni yang tersebar di seluruh penjuru dunia, ratusan pesantren alumni yang berdiri atas inspirasi dan metodologi Gontor, serta pengakuan internasional yang beliau terima dari berbagai negara. Yang lebih dalam dan lebih abadi dari itu adalah jejak yang beliau tinggalkan dalam jiwa para muridnya (Pondok Modern Gontor, 2024).

Ketika saya bersama KH Abdul Manaf, KH. Mahrus Amin, KH Saifuddin Arief, KH. Djamhari Abdul Jalal, KH Mad Rodja Sukarta dan keponakan KH Hadiyanto Arief merintis dan mengembangkan jaringan Pesantren Darunnajah—dengan 23 cabang yang tersebar dari Jawa hingga Kalimantan dan Sumatera, lebih dari 13.000 santri, 1.300 pendidik, dan 1.135 hektar aset wakaf produktif—saya menyadari bahwa bangunan besar ini tidak lepas dari fondasi yang pertama kali ditancapkan di Gontor (Darunnajah, 2024; darunnajah.ac.id; sofwanmanaf.id). Setiap kali saya menghadapi keputusan institusional yang berat—memilih antara ekspansi dan konsolidasi, antara kemandirian finansial dan keterbukaan terhadap bantuan—yang terlintas bukan semata teori manajemen dari textbook, melainkan prinsip-prinsip yang pernah beliau hidupi: menata niat, terlibat langsung dalam dinamika lembaga, jihad untuk kemajuan, dan belajar istiqomah (Zarkasyi, 2005).

Collins (2001) mengatakan bahwa organisasi yang bertahan melampaui zamannya adalah organisasi yang memiliki tujuan besar yang melampaui profit, dan pemimpin level 5 yang menggabungkan kerendahan hati personal dengan kemauan profesional yang kuat. KH. Syukri adalah pemimpin level 5 dalam konteks pesantren: beliau tidak pernah mencari sorotan, tidak pernah menonjolkan diri, namun hasil karyanya berbicara keras melampaui masa kepemimpinannya. Gontor di bawah beliau (1985–2020) dan 2 lainnya: KH Hasan Abdullah Sahal, KH Shoiman Lukmanul Hakim dan lainnya bukan hanya bertahan dari berbagai badai perubahan zaman, melainkan berkembang menjadi pusat referensi pendidikan Islam yang diakui secara nasional dan internasional (Pondok Modern Gontor, 2024; Mastuhu, 1994).

Guru yang Terus Mengajar

Pada akhirnya, yang membuat KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA menjadi figur yang terus menginspirasi bukan hanya kapasitas intelektual atau karisma kepemimpinannya—meskipun kedua hal itu sungguh luar biasa dan teruji. Yang paling abadi adalah keteladanan beliau dalam menghidupi nilai-nilai yang beliau ajarkan. Dalam istilah yang beliau sendiri gunakan berulang kali kepada kami para guru: beliau bukan sekadar memimpin, beliau mendidik. Dan pendidikan sejati—sebagaimana diyakini beliau dengan seluruh jiwanya—tidak pernah berhenti pada saat seorang murid meninggalkan bilik pondok.

Empat puluh Tujuh tahun telah berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Gontor pada Agustus 1979. Hari ini, setiap kali saya berdiri di hadapan para santri dan pendidik Darunnajah, setiap kali saya menandatangani surat penugasan seorang guru muda, setiap kali saya mengingatkan diri sendiri bahwa seorang pemimpin adalah pendidik—saya mendengar kembali suara, prinsip, dan semangat KH. Syukri Zarkasyi. Inilah arti seorang guru yang sesungguhnya: ia tetap hadir dalam diri murid-muridnya, bahkan jauh setelah pertemuan fisik berakhir. Itulah kepemimpinan yang melampaui zaman (Manaf, 2024; sofwanmanaf.id; Collins, 2001). Saya bersyukur pernah dididik oleh beliau—langsung dan tidak langsung. Saya bersyukur pernah ditugaskan oleh beliau, digembleng oleh sistem yang beliau bangun, diawasi oleh kepemimpinan yang beliau hidupkan. Dan yang paling saya syukuri: nilai-nilai yang beliau wariskan masih terus berdenyut dalam setiap langkah perjuangan yang saya dan ribuan alumni Gontor lainnya lakukan hari ini, dalam berbagai peran dan di berbagai penjuru bumi (Darunnajah, 2024; darunnajah.com).