Skip to content
Home » Pelatihan Bahasa Arab Pesantren Darunnajah: Kolaborasi Nasional dan Internasional dalam Membangun Tradisi Keilmuan Islam

Pelatihan Bahasa Arab Pesantren Darunnajah: Kolaborasi Nasional dan Internasional dalam Membangun Tradisi Keilmuan Islam

Sofwan Manaf
Pimpinan Pondok Pesantren & Presiden Universitas Darunnajah, Jakarta

ABSTRAK

Artikel ini mengkaji secara komprehensif perjalanan program pelatihan bahasa Arab Pesantren Darunnajah sejak 1938 hingga 2025, dengan fokus pada tiga sumbu kemitraan internasional utama: Universitas Islam Madinah (UIM), Universitas Umm Al-Qura Makkah, dan Universitas Al-Azhar Kairo. Menggunakan pendekatan studi kasus kelembagaan berbasis dokumentasi, analisis ini mengintegrasikan data kuantitatif terverifikasi dari situs resmi lembaga, laporan lajnah internal, dan kajian akademik yang dipublikasikan. Temuan menunjukkan bahwa Darunnajah telah berhasil membangun ekosistem pengembangan bahasa Arab yang melampaui batas-batas institusional pesantren itu sendiri: melalui delapan angkatan dauroh UIM, tujuh belas angkatan dauroh Ummul Qura, dan sebelas mab’uts Al-Azhar, lebih dari 1.500 pengajar bahasa Arab dari ratusan pesantren di seluruh Indonesia telah tersentuh manfaatnya secara langsung. Artikel ini berargumen bahwa keberhasilan ini bukan sekadar prestasi kuantitatif, melainkan manifestasi dari model organisasi pembelajaran (learning organization) berbasis nilai pesantren yang menempatkan ikhlas, tawadhu’, dan khidmah lil ummah sebagai motor penggerak inovasi kelembagaan.

Kata Kunci: bahasa Arab, pesantren, dauroh, pelatihan guru, Darunnajah, Universitas Islam Madinah, Umm Al-Qura, Al-Azhar, organisasi pembelajaran

A. Pendahuluan: Pesantren sebagai Pusat Peradaban Bahasa

Bahasa Arab merupakan instrumen epistemik sentral dalam tradisi keilmuan Islam—ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kunci akses kepada seluruh khazanah intelektual peradaban Islam yang membentang selama empat belas abad. Tanpa penguasaan bahasa Arab yang memadai, seorang Muslim hanya dapat mengakses ajaran agamanya melalui lapisan-lapisan terjemahan yang, betapapun cermatnya, tidak dapat menggantikan dimensi makna, nuansa semantik, dan keindahan stilistik teks aslinya. Kesadaran mendalam inilah yang sejak awal menjadikan penguasaan bahasa Arab sebagai misi institusional yang tidak tergoyahkan di Pesantren Darunnajah—sebuah lembaga pendidikan Islam yang kini mengelola jaringan 23 kampus dengan lebih dari 13.000 santri dan mahasiswa.

Permana (2020, hlm. 91) dalam kajian akademisnya menegaskan bahwa bahasa Arab memainkan peranan strategis bagi jutaan umat di seluruh dunia, tidak hanya sebagai bahasa ritual-ibadah, tetapi juga sebagai alat pemahaman Al-Qur’an dan Hadis sebagai dua sumber normatif utama Islam, sekaligus sebagai medium komunikasi intelektual yang terus berkembang dinamis. Pandangan ini menemukan ekspresi kelembagaannya yang paling konkret di Darunnajah: sejak dirintis oleh K.H. Abdul Manaf Mukhayyar pada tahun 1938 dalam bentuk Madrasah Islamiyah, lembaga ini telah secara konsisten menempatkan penguasaan bahasa Arab sebagai pilar kurikulum yang tidak dapat dikompromikan (Dokumentasi Darunnajah, 2024). Dalam kerangka teori organisasi pembelajaran (learning organization) yang dikembangkan Senge (1990), Darunnajah merepresentasikan institusi yang secara berkelanjutan mentransformasi pengalaman lapangan menjadi pengetahuan yang dikodifikasikan, dan pengetahuan tersebut menjadi praktik pedagogi yang terus disempurnakan—sebuah spiral pembelajaran yang terbukti dari kelangsungan program dauroh hingga angkatan ke-8 di Universitas Islam Madinah dan angkatan ke-17 di Universitas Ummul Qura pada tahun 2025 (Darunnajah, 2024; Sindonews, 2025).

Artikel ini bertujuan menyajikan kajian sistematis dan terverifikasi atas keseluruhan ekosistem pelatihan bahasa Arab yang telah dibangun Darunnajah selama hampir empat dekade. Dengan mengintegrasikan data primer dari arsip lembaga, laporan resmi lajnah, dan dokumentasi digital dari situs resmi darunnajah.com dan darunnajah.ac.id, kajian ini memotret tidak hanya skala dan jangkauan program, tetapi juga filosofi pedagogis, mekanisme manajemen, dan dampak multiplier yang telah dihasilkan bagi ekosistem pendidikan bahasa Arab Indonesia secara luas.

B. Tonggak Sejarah: Dari Perintisan hingga Sistematisasi Program

Akar genealogi program bahasa Arab Darunnajah dapat ditelusuri langsung kepada visi pendidikan K.H. Abdul Manaf Mukhayyar yang merintis Madrasah Islamiyah pada tahun 1938 di kawasan Petukangan, Jakarta. Sebagai alumni Madrasah Islamiyah Jamiatul Khair Tanah Abang—salah satu lembaga pendidikan Islam modern paling progresif di Indonesia pada masanya—K.H. Abdul Manaf telah terpapar pada tradisi keilmuan yang menempatkan bahasa Arab bukan sekadar sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai wahana epistemik untuk memahami agama secara langsung dari sumbernya. Lembaga ini kemudian berkembang menjadi Pesantren Darunnajah yang secara resmi berdiri di Petukangan pada tahun 1961, dan memasuki fase ekspansi pesantren ketika pada tahun 1974 bersama K.H. Mahrus Amin dan K.H. Qomaruzzaman mendirikan pondok pesantren di Ulujami, Jakarta Selatan (Dokumentasi Darunnajah, 2024).

Perkembangan kelembagaan Darunnajah sejak awal banyak diilhami oleh tradisi pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor—lembaga yang menjadi referensi utama dalam pengembangan kurikulum Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (TMI). Kurikulum TMI secara eksplisit menempatkan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai dua pilar kompetensi linguistik global yang wajib dikuasai oleh seluruh santri. Orientasi bilingual ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan cerminan dari kesadaran strategis bahwa lulusan pesantren harus mampu berpartisipasi secara kompetitif baik dalam wacana keilmuan Islam global maupun dalam percaturan pengetahuan internasional yang lebih luas (Dokumentasi Darunnajah, 2024).

Tahun 1986 menandai titik infleksi yang sangat signifikan dalam sejarah program bahasa Arab Darunnajah: untuk pertama kalinya, pesantren ini menyelenggarakan program pelatihan bahasa Arab yang terprogram, berkesinambungan, dan bersumber dari kemitraan institusional resmi dengan lembaga bahasa Arab bereputasi internasional. Mitra strategis yang dipilih pada tahap awal ini adalah LIPIA—cabang resmi dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh, Arab Saudi, yang telah memiliki kehadiran di Jakarta sejak dekade sebelumnya, bermula dari kawasan Salemba dan Raden Saleh sebelum menetap di Ragunan, Jakarta Selatan. Program pelatihan ini dirancang secara khusus untuk para ustaz dan tenaga pengajar—bukan hanya untuk santri—mencerminkan orientasi teacher-first yang secara empiris terbukti menghasilkan dampak multiplier paling signifikan: seorang guru yang terlatih baik akan mempengaruhi ratusan atau bahkan ribuan murid sepanjang karier mengajarnya (Darunnajah, 2024a).

Inti metodologis dari seluruh program pelatihan guru di Darunnajah—baik yang diselenggarakan secara internal maupun dalam konteks dauroh internasional—adalah penerapan al-tharîqah al-mubâsyirah (direct method): penggunaan bahasa Arab secara eksklusif dan konsisten sebagai satu-satunya medium instruksional, tanpa menggunakan bahasa terjemahan sebagai perantara. Metode ini menekankan penguasaan tiga unsur linguistik fundamental—al-ashwât (fonologi), al-mufradât (leksikon), dan al-qawâ’id (tata bahasa)—yang dikembangkan secara integratif melalui empat mahârât lughawiyyah: al-kalâm (berbicara), al-istimâ’ (menyimak), al-qirâ’ah (membaca), dan al-kitâbah (menulis) (Darunnajah, 2024a).

Komitmen Darunnajah terhadap pengembangan kompetensi bahasa melampaui ruang-ruang pelatihan formal dan mendapat pengakuan diplomatik internasional. Salah satu indikatornya adalah Darunnajah Language Competition (DLC)—sebuah kompetisi multilingual bergengsi yang edisi ketiganya dibuka secara resmi oleh perwakilan Political Section Kedutaan Besar Inggris sekaligus Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Amerika Serikat. Partisipasi pejabat diplomatik tingkat tinggi dari dua negara anglofon terkemuka dalam acara akademik sebuah pesantren merupakan pengakuan yang tidak dapat diabaikan atas kualitas dan relevansi program pengembangan bahasa di Darunnajah (Dokumentasi Darunnajah, 2024).

C. Kemitraan dengan Universitas Islam Madinah: Delapan Angkatan Dauroh (2009–2024)

Universitas Islam Madinah (UIM) menempati posisi istimewa dalam ekosistem keilmuan Islam global: didirikan pada tahun 1961 atas instruksi langsung Raja Saud bin Abdul Aziz, universitas ini sejak awal dirancang sebagai institusi internasional yang mengemban misi penyebaran Islam moderat dan pengajaran bahasa Arab kepada komunitas Muslim non-Arab di seluruh dunia. Kemitraan Darunnajah dengan UIM, yang secara resmi dimulai melalui kunjungan dosen-dosen UIM pada 25 September 2010 dan berlanjut dengan kunjungan Dekan Kelas Jauh UIM Prof. Dr. Muhammad Yusuf Ahmad Afifi pada 12 Januari 2011, merupakan salah satu kolaborasi kelembagaan paling produktif yang pernah terjalin antara pesantren Indonesia dengan universitas di dunia Arab (Dokumentasi Darunnajah, 2024).

Selama lebih dari satu dekade, kemitraan ini menghasilkan delapan angkatan program dauroh yang terdokumentasi, dengan profil yang terus berkembang dari sisi skala, inklusivitas, dan kompleksitas kurikulumnya. Tabel berikut merangkum kronologi lengkap berdasarkan data yang terdokumentasi dalam situs resmi lembaga:

Tabel 1. Kronologi Program Dauroh Bahasa Arab Darunnajah – Universitas Islam Madinah (2009–2024)

Angkatan Periode Jenis Peserta Jumlah Catatan Penting
Ke-1 2009 (Ramadhan–Syawal) Santri & Guru 35 orang Ditanggung penuh Pemerintah Saudi; 45 hari; pertama kalinya diadakan
Ke-2 2010 Santri, Guru & Santriwati 47 orang Pertama kali melibatkan santriwati — terobosan kesetaraan gender dalam pendidikan bahasa
Ke-3 27 Jun–12 Jul 2012 Multi-pesantren nasional 700 orang Di Jakarta (400), Gontor, UIN Makassar, Malang; dikunjungi Rektor UIM; termasuk pelatihan imamah
Ke-4 2014 Santri Senior Terpilih Fokus persiapan masuk UIM; 8 peserta berhasil diterima
Ke-5 5 Mar–7 Apr 2023 Asatidz & Santri multi-lembaga 68 orang Termasuk peserta non-utusan; halaqah tahsin Masjid Nabawi; 3 kelompok level (A2, B1, B2)
Ke-7 27 Feb–26 Mar 2024 Santri & Guru 47 orang 18 hari di Madinah + 8 hari di Makkah; program holistik bahasa dan spiritualitas
Ke-8 Oktober–14 Nov 2024 Santri 28 orang Wisuda oleh Syekh Dr. Badr Al-Harbi (CEO Ta’allam ‘Arabiyyah UIM); 5 santri berprestasi diberi penghargaan