Skip to content
Home » 45 Tahun Tanpa Jeda: Kesungguhan Pendiri dan Guru Mengawal Tradisi Pengabdian yang Selaras dengan SDGs

45 Tahun Tanpa Jeda: Kesungguhan Pendiri dan Guru Mengawal Tradisi Pengabdian yang Selaras dengan SDGs

Pandeglang, 4 Februari 2026 — Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., hadir dan memberikan sambutan pada upacara pelepasan Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM) Darunnajah Pusat ke-45 Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Kabupaten Pandeglang, Banten. Acara pelepasan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Pandeglang, Siti Gogon Goniah, M.A., yang menyambut baik kehadiran 193 santri kelas akhir Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (TMI) Darunnajah di wilayahnya. Momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan tonggak sejarah yang menandai hampir setengah abad konsistensi sebuah lembaga pendidikan Islam dalam mengawal tradisi pengabdian masyarakat — sebuah pencapaian yang langka di dunia pesantren Indonesia.

Jejak 45 Tahun yang Tak Pernah Terputus

Rekam jejak PPM Darunnajah menyimpan narasi kegigihan yang luar biasa. Pada tahun 1981, program ini dimulai dengan sangat sederhana — hanya 5 santri yang diberangkatkan ke Bali. Angka yang nyaris simbolis ini justru menjadi benih dari sebuah tradisi besar. Setahun kemudian, 1982, PPM mulai menemukan bentuknya di Cirebon dengan 6 peserta. Dari sinilah fondasi diletakkan oleh para pendiri pesantren dengan visi yang jauh melampaui zamannya.

Pertumbuhan PPM mencerminkan kesungguhan para pendiri dan guru dalam membangun sistem pendidikan yang utuh. Dari 16 peserta pada 1983, angka terus meningkat: 43 peserta pada 1986, melonjak ke 91 peserta pada 1987 yang mulai menjangkau tiga wilayah sekaligus (Bogor, Brebes, Cirebon), hingga menembus angka 154 peserta pada 1990 yang menyebar ke lima kabupaten. Puncak partisipasi tercatat pada tahun 1999 dengan 286 santri yang diberangkatkan ke Kuningan, dan pada 2019 dengan 283 santri ke tiga kabupaten di Bengkulu.

Yang paling mengesankan adalah fakta bahwa PPM tidak pernah berhenti — bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020 dan 2021. Saat dunia pendidikan lumpuh, Darunnajah tetap menyelenggarakan PPM dengan 278 dan 284 peserta yang melaksanakan pengabdian di lokasi masing-masing. Keputusan ini bukan semata soal menjaga tradisi, melainkan cerminan keyakinan mendalam bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan santri.

Sepanjang 45 tahun perjalanannya, PPM telah menjangkau berbagai wilayah di Nusantara: dari Cirebon, Kuningan, Brebes di Jawa, hingga Lampung, Bengkulu, Riau di Sumatera, dan bahkan Bali pada awal pembentukannya. Lebih dari 8.000 santri telah digembleng melalui program ini, menjadikannya salah satu program pengabdian masyarakat berbasis pesantren yang paling konsisten dan luas jangkauannya di Indonesia.

Di balik angka-angka tersebut tersimpan dedikasi para pendiri dan guru yang tak kenal lelah. Sejak Darunnajah berdiri pada 1 Agustus 1961 dan Pondok Pesantren di Ulujami dimulai pada 1 April 1974, para kiai dan asatidz telah menanamkan prinsip bahwa pesantren bukan menara gading yang terpisah dari masyarakat. PPM adalah manifestasi nyata dari Panca Dharma Darunnajah, khususnya pilar Kader Umat, Dakwah Islamiyah, dan Cinta Tanah Air dan Berwawasan Nusantara, serta Panca Jangka pada dimensi Pengkaderan dan Pengabdian Masyarakat.

Kesungguhan Pendiri dan Guru: Pilar di Balik Konsistensi

Dalam sambutannya, Dr. K.H. Sofwan Manaf menegaskan, “PPM bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan aktualisasi nilai-nilai Panca Jiwa, Panca Dharma, dan Panca Bina yang menjadi ruh pendidikan Darunnajah. Melalui PPM, santri digembleng untuk menjadi kader pemimpin umat dan bangsa. Di tengah masyarakat pedesaan, mereka belajar mengamalkan ilmu agama, melatih kepemimpinan, mengasah kemampuan komunikasi, menumbuhkan kepekaan sosial, dan mengembangkan soft skill untuk masa mendatang.”

Konsistensi 45 tahun ini tidak terjadi secara kebetulan. Setiap tahun, panitia dari Departemen Hubungan Masyarakat bersama Majelis Guru TMI harus melakukan survei lokasi, mengurus perizinan dari berbagai instansi pemerintah, menyiapkan pembekalan, mengorganisir transportasi dan akomodasi, serta membangun koordinasi dengan kepala desa dan tokoh masyarakat setempat. Seluruh proses ini dijalankan dengan semangat keikhlasan — salah satu nilai inti Panca Jiwa Darunnajah — yang menjadikannya berkelanjutan lintas generasi.

PPM dan Sustainable Development Goals: Pesantren Menjawab Tantangan Global

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah 17 agenda global yang ditetapkan PBB pada 2015, disepakati 193 negara (termasuk Indonesia) untuk menciptakan kehidupan lebih baik, sejahtera, dan adil bagi manusia dan bumi pada tahun 2030. SDGs berfokus pada pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Menariknya, jauh sebelum dunia internasional merumuskan Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2015, Darunnajah telah menjalankan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan melalui PPM sejak 1981. Keselarasan antara program PPM dan agenda SDGs bukan sesuatu yang direkayasa, melainkan muncul secara organik dari filosofi pendidikan pesantren yang memandang manusia sebagai khalifah fil ardh — pemelihara dan pelayan kehidupan di muka bumi.

SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) menjadi pilar utama PPM. Santri mengajar di SD, MI, TPA, dan Madrasah Diniyah di desa-desa yang minim akses pendidikan berkualitas. Mereka membuka perpustakaan mini, mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an, dan memperkenalkan kosakata tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia) kepada anak-anak pedesaan. Selama 45 tahun, ribuan anak di pelosok Nusantara telah menerima sentuhan pendidikan dari santri Darunnajah.

SDG 10 (Mengurangi Ketimpangan) tercermin dalam pemilihan lokasi PPM yang secara konsisten menargetkan daerah-daerah pedesaan dan terpencil. Dari Kuningan hingga Mukomuko, dari Lampung Timur hingga Dumai, santri dikirim ke wilayah yang membutuhkan perhatian dan interaksi edukatif, menjembatani kesenjangan antara kota dan desa.

SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial, kerja bakti bersama masyarakat, dan penguatan kapasitas komunitas lokal. Santri tidak datang sebagai “pemberi” yang memosisikan diri di atas masyarakat, melainkan sebagai mitra yang belajar bersama dan berkontribusi sesuai kebutuhan lokal.

SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) terejawantahkan dalam pendekatan PPM yang mengedepankan dialog antarbudaya, penghormatan terhadap kearifan lokal, dan pembangunan harmoni sosial. Etika kemasyarakatan yang diajarkan kepada santri — mulai dari menghormati tradisi setempat hingga berkoordinasi dengan aparat desa — merupakan praktik pembangunan perdamaian di tingkat akar rumput.

SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) tampak jelas dalam kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kehadiran Siti Gogon Goniah, M.A., mewakili Pemerintah Kabupaten Pandeglang pada pelepasan PPM ke-45 ini merupakan bukti nyata kemitraan yang terjalin baik. Perizinan resmi dari DPMPTSP Kabupaten Pandeglang yang telah diperoleh sejak November 2025 menandakan koordinasi kelembagaan yang matang.

Pola Pendidikan Pesantren: Laboratorium Kehidupan yang Melampaui Kelas

PPM merupakan cerminan pola pendidikan pesantren yang holistik dan integratif — sebuah pendekatan yang kini diakui dunia sebagai model experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Jika pendidikan formal cenderung memisahkan ruang belajar dari realitas kehidupan, pesantren melalui PPM justru menyatukan keduanya. Santri tidak hanya mempelajari teori dakwah, tetapi mempraktikkannya langsung di mimbar masjid pedesaan. Mereka tidak sekadar membaca tentang kepemimpinan, tetapi memimpin kelompok dalam situasi nyata yang penuh tantangan.

Filosofi pendidikan ini berangkat dari pandangan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari capaian personal, tetapi dari kesiapan santri untuk hidup bermasyarakat secara dewasa, arif, dan bertanggung jawab. Makna pengabdian dalam perspektif Darunnajah bertumpu pada ajaran Rasulullah SAW: “Khairun-nās anfa’uhum lin-nās” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sistem evaluasi PPM yang menuntut minimal 8 jam kegiatan efektif per hari, laporan individu harian yang diverifikasi pembimbing, serta indikator keberhasilan tiga dimensi (peserta, masyarakat, dan lembaga) menunjukkan bahwa pola pendidikan pesantren memiliki mekanisme quality assurance yang terstruktur. Ini mematahkan stereotip bahwa pendidikan pesantren bersifat tradisional tanpa standar mutu yang jelas.

Tahun 2026, sebanyak 109 santriwan ditempatkan di 10 kelompok di Kecamatan Cibaliung, sementara 74 santriwati tersebar dalam 7 kelompok di Kecamatan Cigeulis. Mereka melaksanakan empat bidang kegiatan utama: keagamaan, pendidikan, keterampilan, serta sosial dan kemasyarakatan — sebuah kurikulum pengabdian yang telah teruji selama hampir setengah abad.

Warisan yang Terus Hidup

Sebagaimana pesan Pimpinan Pesantren kepada seluruh peserta: “Jadilah duta Darunnajah yang membawa manfaat bagi masyarakat. Tunjukkan akhlak mulia, semangat pengabdian, dan keikhlasan dalam setiap langkah.” Dengan semangat “Fī ayyi ardhin tatha’u fa anta mas’ūlun ‘an islāmihā” — di bumi manapun kau berpijak, engkau bertanggung jawab terhadap keislamannya — 193 santri Darunnajah kini telah bertebaran di pelosok Pandeglang. Mereka meneruskan tongkat estafet pengabdian yang telah dimulai dengan penuh kesungguhan oleh 5 santri pada 1981, diperjuangkan oleh ribuan guru dan pembimbing selama 45 tahun, dan insya Allah akan terus hidup sebagai warisan pendidikan yang tak lekang oleh waktu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *